Refleksi Masa Khitmat PMII Cabang Bandar Lampung di Periode Sahabat Erzal


Belum hilang ingatan kita tentang  pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bandar Lampung yang dihelat pada Desember 2017 lalu, kini penyelenggaraan Konfercab yang kabarnya akan dihelat pada Agustus 2019 ini, ditengarai cacat dalam segala aspek.

Terpilihnya sahabat Erzal Syahreza pada 2017 lalu, berujung pada aksi penyegelan Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung, yang disebabkan oleh intervensi salah satu oknum pengurus NU pada pelaksanaan konfercab, yang notabenenya merupakan alumni PMII.

Tak belajar dari 'dosa' sejarah, sahabat Erzal Syahreza beserta jajaran PC PMII Bandar Lampung dengan masa jabatannya yang usang (telah lewat masa khidmat), menampakkan kesalahan besar terhadap anggota dan kader PMII Bandar Lampung menjelang pelaksanaan konfercab.

Konfercab yang ada di depan mata, cacat secara administratif. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya surat pemberitahuan dan penetapan pelaksanaan konfercab kepada pengurus komisariat dan rayon di naungan PC PMII Bandar Lampung. Bukankah hajat besar pemilihan pemimpin ini, merupakan hajat bersama yang juga harus disukseskan bersama?

Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentunya permasalahan ini menjadi tanda tanya besar di benak kita. Pengurus seakan tak becus menjalankan roda organisasi dan tak memahami produk hukum PMII. Sahabat Erzal Syahreza seperti kehilangan arah, sehingga jajaran PC PMII Bandar Lampung bak anak ayam yang kehilangan induk.

Apakah ini adalah efek dari intervensi di masa lalu? Bisa iya, bisa juga tidak. Mengingat PC PMII Bandar Lampung seperti tak dapat mengimbangi gerakan dari grassroot yang dilakukan oleh komisariat dan rayon-rayon. Hal ini terlihat jelas jika sahabat-sahabat mampu membandingkan secara objektif kegiatan cabang dan komisariat. Bukannya lokomotif yang menarik gerbong-gerbong? Tapi kini mengapa gerbong-gerbong yang menarik lokomotif itu?

Pelaksanaan konfercab yang tinggal beberapa hari lagi, sumpah demi apapun belum jelas bakal digelar dimana? Apakah postingan-postingan di media sosial hanya meminimalisir kritik dari jajaran pengurus di bawah, sehingga pelaksanaan ini hanya sebatas gugur kewajiban yang dihelat sekenanya?

Oh iya, di masa yang menurut saya kurang khidmat dari kepemimpinan sahabat Erzal Syahreza, pun tidak menyelenggarakan musyawarah pimpinan cabang (Muspimcab), dimana dalam peraturan organisasi, yang menjadi peserta Muspimcab adalah seluruh rayon dan komisariat di bawah naungan cabang  (PO: BAB V; KONFERCAB, MUSPIMCAB DAN RAKERCAB Pasal 11 tentang Musyawarah Pimpinan Cabang Poin 3 “Peserta penuh sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) adalah PK definitif dan PR yang telah sah dan sudah diverifikasi sebelum MUSPIMCAB dilaksanakan”.) Namun hingga kini musyawarah tersebut tidak dilakukan, sekarang kita malah melihat ramai postingan konfercab. 

Wajar saja hingga hingga sekarang kita tidak melihat adanya kebijakan strategis dan rekomendasi secara mufakat di PMII Cabang Bandar Lampung saat ini. PMII Bandar Lampung terlihat seperti kelompok Prambanan yang onyah dalam gerakan.

Setelah membaca tulisan ini, saya berharap PC PMII Bandar Lampung bisa berpikir lebih jernih dalam mengambil setiap keputusan dan gerakan. Mau dibawa kemana PMII Bandar Lampung jika diurus sekenanya?
Baca juga:  Suramnya Aktualisasi Produk Hukum PMII di Bumi Rua Jurai

Penulis :Rhohimil Ghofar (Demisioner ketua rayon PMII - RDIK 2017/2018

0 Response to "Refleksi Masa Khitmat PMII Cabang Bandar Lampung di Periode Sahabat Erzal"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel