Kiyai sangit dari kampung


Pernah suatu ketika ada seorang santri bertanya kepada kiyainya yang sering di sapa oleh warga kampung dengan kiyai sangit, kerena di samping rumah kiyai tersebut terdapat tempat pembakaran sampah sehingga kadang di rumahnya tercium bau sangit asap. 
Santri tersebut bertanya kepada kiyai sangit terkait apa itu Kebaikan, berikut percakapanya.

Santri : kiyai apa si itu kebaikan?

Kiyai   : tumben ngger (panggilan kepada anak laki-laki) kamu tanya seperti itu?

Santri : iya yai tadi saya pas di pengajian bapak-bapak dengar ceramah, katanya kalok kita pingin jadi orang baik harus banyak-banyak ibadah supaya makin dekat sama allah.

Kiyai   : nah itu kamu dah tau ngger, knapa kok di tanyain lagi?

Santri : jd gini lho pak yai, yang saya bingung dari ceramah itu gini, kenapa kok ustadnya menyampaikan "kalok pingin jadi baik jangan kaya si itu, si ini, kamu bisa contoh si sana yang ibadahnya tekun gak kaya si itu". Nah bukanya ity sama aja kita gibahin orang pak yai? (Pertanyaan semakin mendesak) dan gibah itu kan larangan agama yai? Trus kenapa kok pak ustad itu menyampaikan kebaikan dengan cara membanding-bandingkan orang, bukanya itu sama aja kita ngrasni (ghibah) orng pak yai?

Seketika kiyai sangit pun langsung menepuk pundak sang snatri dengan pelan dan lembut.

Kiyai  : howalah itu to ngger yang kamu bingungin, pak yai gk bisa jelasin karena takutnya nanti saya malah ngrasani pak ustad itu.
Baca juga: Antara Peci dan Dusta

Santri : tapi pak yai

Kiyai  : to opo tongger?

Santri : enjeh pak yai

Kiyai  : jd gini ngger lok kita pingin jd orang baik, gk usah neko-neko udah ikutin syariat agama dr Al-qur'an, dan sunnah-sunnah rosul. Dan yang utama ikutin wejangan dari kiyai-kiyai dan ulama, karena sekarang sudah bukan jamannya Nabi lg, jd sekrang kita percaya kepada penerua nabi, yakni ulama-ulama sama kiyai-kiyai. Kalok kita gk percaya lagi sama mereka, trus kita mau nderek sapa lg ngger?
Seketika suasana menjadi hening dan si santri diam smabil merenung.

Santri : enjeh pak yai

Kiyai.  : intinya sekarang lok mau jd orang baik itu harus, Hablu Minallah, Hablu Minannas, Hablu Minal-Alam, neh kesemuanya itu harus imbang ngger gak boleh berat sebelah, antara kita sama tuhan, sesama manusia, dan dengan alam sekitar. Jd dah gk usah ngurusin ustad tadi, ndrek wae awakmu karo kiyaimu, gak usah neko-neko neng urip iki ( jd dah gk usah ngurusin ustad tadi, Ngikut aja kamu sama kiyaimu, gak usah aneh-aneh di hidup ini)

Santri  : enjeh pak yai

Perbincangan berlanjut sangat lama, dan sang santri hanya bisa berkata enjeh (iya), karena ketakzimanya sama kiyai sangit.

0 Response to "Kiyai sangit dari kampung"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel