Bukuku Yang di Ciduk Aparat


Pada zaman orde baru kebebasan berpikir dan berpendapat sangat lah terkekang di tandai dengan banyak nya buku yang di musnahkan selagi buku itu tidak sesuai dengan kebijakan rezim kala itu, bukan hanya tulisan-tulisan yang di muat di koran, pendapat/pemikiran kita jika  tidak sejalan dengan  pemerintahan pun di babat habis oleh rezim orba. Hal itu seolah mematikan fungsi kode etik jurnalistik,nalar kritis di kikis habis pada zaman orba di karnakan akan mengancam kukuatan rezim yang sedang berkuasa kala itu.

Kini pada zaman pasca Reformasi dan demokrasi yang kata nya sudah bebas berpendapat seperti yang tertera pada UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1998 yakni tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, sekarang hanya menjadi sebuah simbol semata.  

Mengkritik pemerintah sedikit di kira musuh, melakukan aksi di katakan kekacauan,buku-buku di cekal dari peredaran sehingga membuat rakyat  menjadi bodoh,terlebih saat ini sedang heboh-heboh nya razia buku kiri yang di lakukan oleh aparat  dalam waktu kurun 7 bulan saja paling tidak sudah 3 kali penyitaan buku yang di lakukan oleh aparat gabungan TNI dan POLRI itu pun yang tercium oleh media.

Pertama penyitaan buku terjadi di kediri,26 desember 2018  buku yang di sita yakni empat karya filsafat,menempuh jalan rakyat,,manifesto partai komunis,orang-orang di persimpangan kiri jalan,benturan NU-PKI 1948-1965,GERAKAN SEPTEMBER 1965 dan lainya yang sejenis, setelah di kediri ada lagi penyitaan buku di padang, 8 januari 2019, buku yang di sita ialah KRONIK 65,MENGINCAR BUNG BESAR,ANAK-ANAK REVOLUSI,GESTAPU 65 PKI,DAN JAS MERAH.


Yang paling miris adalah perampasan buku pegiat literasi jalalanan yang menggelar lapak baca buku gratis di alun-alun kraksaan kabupaten Probolinggo,jawa timur,(27/7/2019) kedua penggiaat literasi tersebut di tangkap lantaran memajang buku AIDIT DUA WAJAH,DIPA NUSANTARA, SUKARNO, MARXINISME dsn LENINISME,MENEMPUH JALAN RAKYAT,D.N AIDIT SEBUANG BIOGRAFI RINGKAS.,buku di sita oleh aparat dengan dalih agar tidak meresahkan masyarakat.

hahaha hal ini menurut saya sangat lah lucu dan menarik untuk di bahas jangan kan untuk membaca untuk datang ke toko buku saja masyrakat indonesia sangat lah malas, maka seharusnya penggiat literasi adalah kawan akrab pemerintah untuk membantu  mencerdaskan kehidupan bangsa. Mirisnya buku yang di sita adalah buku-buku yang berbau perlawanan terhadap suatu keadaan, Perlu kita ingat jika tidak ada tradisi pemikiran perlawanan nama Indonesia tidak pernah ada dalam peta dunia, sejarah pergerakan anti kolonial berkembang karena ada kritisme, tanpa ada gagasan kiri kita hanya jadi budak bagi kolonialisme bangsa asing(achdian).

Houhouuuuu menarik bukan saat ini kita sedang di nina bobokan agar nalar kritis kita mati dan tumpul. Ketimbang pemerintah rajin melakukan razia terhadap buku-buku mendingan pemerintan melarang penayangan sinetron-sinetron yang memiliki dampak pembodohan lebih banyak.

Jika alasan penyitaan nya ialah TAP MPR NOMOR TAHUN 1966 yakini tentang larangan –larangan penyebaran paham komunis, seyogya nya pemerintah memberikan fasilitas seperti kajian-kajian mendalam tentang buku kiri dan yang lainya. ahhhhh sudah lah masa pengikisan nalar ktitis sudah di mulai para mahasiswa dan masyrakat harus bangkit melawan.

“lebih baik aku sengsara asal nalar kritis ku tidak mati dari pada aku menikmati kehidupan tetapi nalar kritis ku punah’'


Penulis :Luki Pratama 

0 Response to "Bukuku Yang di Ciduk Aparat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel